Updates from May, 2018 Toggle Comment Threads | Keyboard Shortcuts

  • yuda anas susetyo 4:07 pm on May 22, 2018 Permalink | Reply  

    Rasa Khawatir 

    “Sungguh manusia akan diuji dengan sedikit rasa lapar, sedikit rasa was-was dan khawatir”

    Sepertinya aku pernah baca ayat atau hadist, bahkan aku lupa yang bunyinya kira kira seperti itu. Lupa apa itu tapi setidaknya isi ilmunya tidak lupa (pembelaan broo). Kali ini aku mau bahas rasa khawatir yang itu pasti dimiliki oleh setiap orang, aku yakin siapapun itu pasti pernah merasakan kekhawatiran. Bahkan dengan pikiran logis ini selalu berfikir jangan khawatir, jangan khawatir dan jangan khawatir…, karena khawatir itu berarti kita telah meremehkan Allah SWT yang maha segalanya, menguasai waktu dan menguasai segalanya (aku tidak sanggup menyebutkan satu persatu karena memang ga bakal cukup inih kapasitas blog untuk menyebutkannya bahkan jika lautan dijadikan tinta ga bakal sanggup untuk menuliskan semuanya).

    Kekhawatiran itu bisa karena kita kasih sayang dan takut kehilangan orang yang disayang, bisa karena takut masa depan masalah umur, kesehatan rejeki. Rasa khawatir bisa dipicu oleh banyak hal, tapi ketahuilah semua adalah karena disebabkan oleh hati. Hati itu bukan sekedar segumpalan darah yang secara fisik ada, tapi lebih jauh dari itu abstrak yang  menjadi petunjuk arah kontrol dari pikiran.

    Sekarang pertanyaanya kenapa bisa muncul rasa khawatir itu?.,. Ah jangan munafik menyalahkan Syaiton atau setan, jin atau apapun itu. Bisa jadi memang hati kita ini terlalu keras untuk mendengar, melihat dan merasakan. Kerasnya hati juga butuh proses bro, terlalu normatif ketika hanya jawaban tidak pernah membaca al-quran, atau mendengar ceramah dan berbagai hal keagamaan. Kerasnya hati bisa karena kebiasaan yang sudah menjadi darah daging, bahkan sudah tidak tahu lagi ternyata yang dilakukan adalah salah, ah bukan tidak tahu tetapi karena tidak mau tahu. Memangnya pernah kita ini berbicara dengan hati? seharusnya bisa loh, jangan sampai hati ini tertidur. Enak aja tidur padahal ketika kita berbuat salah ya seluruh dari kita bakal merasakan ganjarannya. Jangan menyalahkan orang lain ketika berbuat salah, maka koreksi dulu saja diri sendiri.

    Bagi yang sudah sering membaca Al-Quran, belajar tentang kebaikan saja belum tentu bisa lepas dari rasa khawatir, apalagi ya YOU KNOW lah delok gitok e dewe dewe rek.

    “mulailah ridho terhadap segala yang terjadi baik itu karena tingkah diri sendiri atau karena orang lain, ridholah segala apapun yang sudah terjadi. Kemudian barulah berdoa agar Allah SWT meridhoi apa yang akan kita lakukan”

    “ALLAH SWT itu menguasai segalanya, takdir bisa saja dirubah lhawong sing gawe takdir ki gusti Alloh, tinggal awake dewe usaha merubah takdir itu dadi luweh apik

     
  • yuda anas susetyo 6:06 am on May 9, 2018 Permalink | Reply  

    Kebohongan Besar 

    Pernahkah engkau dipandang WOW oleh orang sekitarmu? Atau pernah ditanamkan harapan yang besar dari pencapaian kecilmu? mungkin sebaliknya malah dipandang remeh dengan pencapaianmu atau bahkan cita-cita yang dianggap oleh lingkunganmu terlalu besar untuk seorang sepertimu?

    Kebetulan semua pertanyaan itu sudah pernah terlewat, dan aku mencoba mengingatnya dengan alur mundur.

    Pernah ku berfikir sebuah kebohongan besar sedang terjadi dalam kehidupanku, betapa tidak sebagai seorang perantau di kota industri sekitar 3 tahun pasti akan dibenturkan dengan harapan yang besar dikampung halaman tercintaaah. Keluarga, tetangga dan juga teman pasti menganggap kesuksesan besar sudah diperoleh. Kalau di desa yang orangnya sedikit yang menjadi perantau dalam negri, kalau merantau selama ini sih identik luar negri atau menjadi buruh negri tetangga (kamu tahulah negara mana itu). Perantau dalam negeri biasanya kalau didesaku justru orang yang berhasil dalam arti mempunyai penghasilan yang lebih dan ketika pulang lebaran kebanyakan pasti akan bergaya. Tidak dipungkiri itu yang juga menjadi sudut pandang terhadapku, harapan, yang menurutku terlalu besar itu menjadi beban tersendiri ketika pulang kampung, ah itu bukan aku yang terbebani tapi aku lebih takut kepada beban yang ditanggung orang tuaku. Disadari ataupun tidak pandangan lingkungan terhadapku akan berpengaruh kepada orangtuaku, dan aku tidak ingin semua itu terjadi. Disisi lain aku tidak mau hidup dalam kepalsuan yang harus memaksakan sesuatu yang memang seharusnya belum waktunya kulakukan.
    Emmmm, sebelum merantau 3 tahun ini aku sempat mengawali perantauan sekitar 4,5 tahun di kota pendidikan Yogyakarta bukan untuk menjadi buruh atau pekerja tetapi menjadi mahasiswa di Universitas ternama di negeri ini. Sebelum kutapaki kaki di Universitas ini, pernah sekali ku dipandang dengan kemampuan yang biasa saja (bodo) dan kelakuan yang gag beres jelas jelas tidak mungkin aku diterima di kampus nan mewah. Tapi kenyataan membuktikan keberuntungan bersama orang orang yang gagah dalam menghadapi masalah.

    Permasalahan selalu saja datang di awal dan akan terus ada permasalahan yang mengikutinya, sebagai manusia sudah sewajarnya akan muncul rasa was-was, bersalah, takut, merasa rendah diri dan masih banyak sifat-sifat terkutuk lain yang akan muncul. Tetapi dari berbagai masalah yang muncul itu selalu saja aku bisa membohongi diriku sendiri untuk tetap berdiri dan bertahan disetiap masalah itu, Meskipun terkadang masih labil dan sesekali terjatuh dalam keterpurukan tetapi hal itu wajar karena sifat manusia bahkan keimanan pun akan berada pada posisi yang naik-turun pula.
    kebohongan-kebohongan selalu aku bentuk untuk mengatasi masalah diriku sendiri karena aku yakin masalah terbesar diri ini bukan ada pada masalah yang disebabkan oleh faktor luar tetapi ketika masalah diri pribadi sudah teratasi maka masalah diluar sana akan dapat teratasi juga. Maka berdamailah dengan dirimu sendiri. Ah beberapa tahun ini aku punya kepribadian baru untuk mengatasi kejenuhanku, aku seringkali tertawa. Yaph hadapi aja dengan senyuman, kalau perlu tertawalah agar masalah itu malu dan enggan untuk mendekatimu.wkwkwkwkwk

     

     
  • yuda anas susetyo 9:36 am on May 4, 2018 Permalink | Reply  

    Ku Terlahir Kembali 

    Rasanya ku terlahir kembali ketika sejenak kurasakan setelah…, ah entah setelah apa yang terjadi disetiap detik yang kujalani.
    Sungguh hina jika aku merasa terlahir kembali setelah bertahun tahun, tetapi itulah adanya. Padahal inginku selalu terlahir menjadi lebih baik disetiap detik nafas hidupku yang entah sampai kapan akan terus berhembus. Ya, aku ingin selalu ingin lebih baik disetiap waktuku yang tersisa.
    Sudah banyak hal buruk, emm, bukan hal buruk tetapi akulah yang membuat kejadian itu mengarah kekeburukan. Ya itu masa lalu, biarlah semua berlalu layaknya waktu yang memang tak pernah kembali. Aku tak ingin membuat penyesalan dengan terus terkurung dalam tempurung kenistaan. Aku bersyukur karena sebuah aib selalu ditutup oleh Allah SWT, sesuai dengan janjinya. Sedikit demi sedikit setelah kuputuskan perantauan pertamaku ke Kota Gudeg, banyak pelajaran yang musti ku ambil hingg
    a mengantarkanku pada sepercik kesadaran. Hingga aku tenggelam lagi pada kekacauan yang membelengguku pada pilihan yang sama-sama berat.
    Sepertinya, Meninggalkan Kota Gudeg belum bisa menyadarkanku pada gelombang yang kedua bahkan gelombang pasang semakin tinggi sampai mengantarkanku pada dilema yang tidak ada habisnya hingga kini, aku tak tahu apakah puncak gelombang ini sudah aku lalui. Kota Subang menjadi saksi bisu, aku harus memilih. Ini bukan pilihanku, tapi sebuah pilihan keterpaksaan.
    Aku tak ingin terjatuh dalam lubang yang sama, semoga pilihanku ini menjadi yang terbaik.
    Yang lalu adalah pelajaran, masa kini adalah usaha, dan masa depan adalah misteri.
    semua akan saling berkaitan. Semoga kata kata ku yang penuh kiasan ini menjadi pengingatku untuk berhijrah dan terus berhijrah.

     
  • yuda anas susetyo 11:54 am on April 26, 2018 Permalink | Reply  

    Pendewasaan 

    Pendewasaan itu berbeda dengan penuaan. Pendewasaan itu tidak pasti, sedangkan penuaan itu jelas dan sudah pasti. Dewasa itu istilah sifat, sedangkan tua itu masalah umur. Pendewasaan butuh proses yang  setiap orang tidak akan sama prosesnya, untuk menjadi dewasa butuh tempaan yang kadarnya juga berbeda setiap orangnya. Semakin ditempa maka akan menghasilkan sifat yang luarbiasa, layaknya batu yang butuh proses untuk menjadi berlian.
    Orang yang sudah tua belum tentu dewasa, misalnya saja masih suka bertengkar dengan tetangga, yaph intinya tidak tau tanggungjawab dan haknya, masalah aturan moral. Meskipun tidak dapat dipungkiri umur juga berpengaruh dalam proses pendewasaan, yang asumsinya semakin banyak umurnya semakin banyak juga pengalamannya dan tempaan hidup yang dialami juga bisa semakin banyak menjadikan sifat semakin matang.
    Banyak yang mengamini ketika bilang “mumpung masih muda cari pengalaman dulu”, ya itu jelas buat bekal dihari nanti, untuk cerita dimasa depan. Jangan sampai ada istilah “mumpung masih muda, dinikmati dulu saja” seperti halnya berfoya-foya mumpung masih muda. Menikmati masa muda boleh tetapi jangan sampai merugikan dirisendiri, atau bahkan orang lain. Bukan berarti kita ini ketika berlaku tidak baik pada diri sendiri seperti Tato badan, Miras, Narkoba itu hanya  akan berdampak pada diri kita saja. Ingatlah keluarga, bukan hanya yang saat ini terutama orang tua, tetapi masa depan apakah tidak pernah berfikir untuta keluarga seperti istri dan anak ketika esok berkeluarga. Hmmm, ada juga yang berfikir, nanti aja ah bisa tobat, nanti aja sekarang belum waktunya entar juga pasti ada masanya sendiri untuk berhenti dan berbuat baik. GEMBEL ini pikiran seperti ini, jangan harap ketika sudah mentato, Miras, apalagi narkoba itu tidak akan berpengaruh dengan tubuhmu, otakmu, pola pikir. Semua akan berbeda, ketika tanpa obat-obatan seperti itu. Kalau tato juga jelas keliyatan, meski dihapus pun juga bakal terliyat juga itu. Pasti ada yang mikir itu adalah seni, “kalau di tato itu bukan tentu orang jelek” itu liyat mereka yang bertampang ustad, orang pintar bersekolah tinggi ujung ujungnya menyengsarakan rakyat dan mending kayak gini bertato tapi hatinya baik. GEMBBBELLL dah orang gini, kalau mau menggambar kenapa tuh dibadan, kalau seni apa ga ada yang lain yak, ya terserah sih itu pandanganku.
    Bersenang senang boleh, tapi ingat tanggungjawab. Banyak ciri orang yang dewasa seperti Tanggungjawab, menghargai pendapat orang lain (hargai pendapatku ini yak,haha), Tepat janji, patuh aturan, mengontrol emosi dan yang baik baik lainnya dah.
    Nah ini pendapatkuh, saling hargai pendapat yak…..,

    “Dewasa merupakan hasil dari seni menempa diri”

     

     
c
Compose new post
j
Next post/Next comment
k
Previous post/Previous comment
r
Reply
e
Edit
o
Show/Hide comments
t
Go to top
l
Go to login
h
Show/Hide help
shift + esc
Cancel