Attention Budidaya Lele 

Lele merupakan air tawar yang banyak diminati konsumen, biasanya sering di olah menjadi makanan favorit pecel lele. Penjual pecel lele ini menjamur di setiap kota di Indonesia. Banyaknya permintaan pasar menjadikan bisnis ikan lele diminati oleh masyarakat. Saat ini banyak muncul petani pembudidaya ikan lele baru, ada yang semakin berkembang dan ada juga yang meredup dan gulung tikar. Ada berbagai sebab yang mempengaruhi perkembangan pembudidaya ikan lele. Mulai dari proses budidaya, hingga tahap pemasaran. Kali ini saya akan fokus membahas tentang proses budidayanya, yaitu apa sajakah yang harus dan tidak boleh dilakukan, serta masalah apa yang sering muncul pada proses budidaya ikan lele:

A. Masalah

  1. Mitos setut pakan menjadikan lele cepat panen

Banyak yang beranggapan semakin banyak pakan yang diberikan maka akan menjadikan lele cepat panen, hal ini tidaklah benar. Jika lele kelebihan pakan akan memunculkan masalah yaitu:

a. Sisa pakan yang tidak termakan akan menjadi penyakit pada ikan lele. Air yang keruh akibat sisa pakan ini akan menyebabkan cacar air dan ikan mati.

b. Ikan lele termasuk ikan yang rakus, kebanyakan pakan akan menyebabkan usus lele bisa pecah

c. Kebanyakan pakan, ikan lele akan lemah dan biasanya menggantung dengan perut buncit.

2. Air cepat keruh, terutama pada kondisi kolam dengan tebar padat ikan lele.

3. Ikan lele adalah ikan yang berjenis carnivora, sehingga rawan kanibalisme.

4. Tidak dilakukan penyortiran ikan lele, akan mengakibatkan tidak meratanya pertumbuhan ikan lele.

5. Harga pakan pabrik (pelet) yang semakin mahal

B. Hal yang harus dilakukan pada budidaya ikan lele

  1. Jangan sampai memberikan pakan hingga sisa, berikan secukupnya (ketika sudah ada pakan yang mengambang atau slera makan ikan menurun segera hentikan pemberian pakan)
  2. Jangan sampai air kolam terlalu keruh atau berbau, sebaiknya lakukan pergantian air setiap hari. Pemberian aerator akan lebih baik terutama untuk kolam terpal dengan tebar padat.
  3. Pemberian hijauan di kolam seperti daun papaya (di potong kecil agar ikan dapat memakanya dengan mudah) agar keinginan terus makan dapat tersalurkan ke hijauan, dan mengurangi carnivore.
  4. Setidaknya pembudidaya memiliki 2 kolam untuk penyortiran.
  5. Pemberian pakan alternative bisa dilakukan untuk menghemat pakan pabrik, meskipun terkadang panen sedikit lebih lama dan menjadi sedikit repot untuk menyiapkan pakan alternative seperti ayam tiren, atau pakan olahan sendiri.

C. Mengatasi masalah yang sering muncul pada ikan lele

  1. Perut kembung dan lele menggantung bisa diberikan garam secukupnya dan daun sirih
  2. Lele manggantung dapat dikuranngi dengan pemberian aerator.
  3. Untuk meningkatkan antibiotic ikan lele dapat diberikan mengkudu dan daun papaya, daun papaya konon juga dapat mengurangi angka kanibal.
  4. Pemberian probiotik dan tetes tebu dapat menjadi solusi adanya penyakit dan bakteri, dan dapat mengurangi intensitas penngisian air kolam. Selain di campurkan di dalam air kolam, probiotik dan tetes tebu dapat di campurkan ke pakan ikan lele yaitu saat pembibisan pakan.
  5. Pada saat persiapan kolam sebelum ikan lele masuk dapat diberikan tetes tebu, probiotik, garam, kapur sawur dan didiamkan kurang lebih 7 hari. Bibit ikan yang dimasukan minimal ukuran 7 .

Sekian sedikit pembelajaran berdasar pengalaman pribadi. Ikan lele mempunyai harga relative stabil di pembudidaya dihargai Rp. 14.000,- hingga Rp 17.000,-. Biasanya banyaknya bobot pakan yang masuk akan setara dengan bobot ikan keluar. Ikan lele dapat panen dari ukuran 7 yaitu butuh waktu 2 – 3 bulan. Membudidayakan ikan lele itu gampang-gampang susah, butuh ketelatenan. Kalau mau cepet panen ya memang seharusnya membudidayakan ikan lele, dengan harga yang stabil tetapi perawatan yang cukup menguras tenaga. Semua kelebihan pasti ada kekurangan, setiap hasil yang dicapai membutuhkan kringat dalam prosesnya.

Salam sukses, scale up unstoppable…………………..